Lomba Inovasi Daerah Tarakan 2026 Dibuka, Gagasan Harus Berdampak bagi Masyarakat
TARAKAN – Pemerintah Kota Tarakan melalui Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, Penelitian, dan Pengembangan (Bappeda Litbang) kembali menggelar Lomba Inovasi Daerah Kota Tarakan 2026. Pendaftaran dibuka pada 1–30 Oktober 2026 dengan mengusung tema “Inovasi Berdampak, Tarakan Maju dan Berdaya Saing”.
Kepala Bappeda Litbang Kota Tarakan, Dr. Catur Hendratmo, diharapkan dapat mendorong partisipasi berbagai kalangan untuk menghadirkan gagasan yang mampu menjawab persoalan di daerah. Lomba ini terbuka bagi aparatur sipil negara (ASN), pelajar, mahasiswa, masyarakat umum, hingga komunitas yang berdomisili di Kota Tarakan.
“Melalui lomba ini, kami ingin mendorong lahirnya inovasi yang tidak hanya kreatif, tetapi juga mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan mendukung peningkatan kualitas pelayanan publik,” demikian usulan kutipan yang perlu dikonfirmasi kepada Catur.
Terdapat tiga kategori yang dapat diikuti peserta, yakni Inovasi Tata Kelola Pemerintahan, Inovasi Pelayanan Publik, dan Inovasi Daerah Lainnya. Peserta dapat mendaftar secara individu maupun tim dengan jumlah anggota maksimal lima orang.
Untuk persyaratan administrasi, peserta dari kalangan ASN wajib melampirkan surat pengantar atau usulan dari perangkat daerah. Pelajar dan mahasiswa harus menyertakan identitas serta surat keterangan aktif. Sementara itu, peserta dari masyarakat umum atau komunitas wajib melampirkan identitas atau bukti domisili di Kota Tarakan.
Dalam kategori inovasi gagasan, peserta tidak diwajibkan telah mengimplementasikan inovasinya. Namun, gagasan harus mengangkat persoalan pelayanan dasar serta memuat target penerima manfaat, desain solusi, alur pelayanan, rencana implementasi, indikator keberhasilan, sumber daya, risiko, dan strategi keberlanjutan.
Peserta juga dapat melampirkan rancangan berupa mock-up, diagram, storyboard, atau simulasi. “Hal yang perlu diperhatikan bukan hanya kebaruan sebuah ide, melainkan juga kejelasan masalah yang ingin diselesaikan, siapa penerima manfaatnya, serta bagaimana gagasan tersebut dapat diterapkan dan berkelanjutan,” ujarnya.
Sementara itu, inovasi yang sudah diimplementasikan harus telah berjalan minimal tiga bulan sebelum 1 Oktober 2026. Peserta juga harus dapat menunjukkan pengguna atau penerima manfaat yang teridentifikasi, bukti implementasi dan manfaat, data sebelum dan sesudah penerapan, standar operasional prosedur (SOP), dokumentasi, testimoni, maupun data transaksi atau pengguna. Produk, layanan, alat, atau sistem yang diajukan harus dapat didemonstrasikan atau diverifikasi.
Peserta diperbolehkan mendaftarkan lebih dari satu inovasi, dengan ketentuan inovasi yang diajukan berada dalam kategori berbeda. Ketentuan ini memberikan kesempatan kepada peserta yang memiliki beberapa gagasan untuk berkompetisi sesuai klasifikasi lomba.
Tahapan lomba dimulai dengan pendaftaran dan pembuatan akun aplikasi RISDA pada 1–30 Oktober 2026, dilanjutkan verifikasi administrasi pada 5–30 Oktober 2026. Penilaian tingkat kematangan inovasi dijadwalkan berlangsung pada 2–4 November 2026, kemudian penetapan sembilan finalis atau Top 9 pada 6 November 2026.
Finalis akan mengikuti presentasi dan penilaian akhir pada 9–10 November 2026. Penetapan serta pengumuman pemenang dijadwalkan pada 11 dan 13 November 2026.
Pemenang dan seluruh peserta akan memperoleh piagam penghargaan. Selain itu, tersedia trofi atau piala, uang pembinaan, serta publikasi melalui kanal resmi Pemerintah Kota Tarakan. Penghargaan tersebut diharapkan dapat menjadi dorongan bagi peserta untuk terus mengembangkan inovasi yang memiliki manfaat nyata.
Pendaftaran dilakukan secara daring melalui tautan https://bit.ly/formInovda. Informasi lebih lanjut dapat diperoleh dengan menghubungi Nuryadi di nomor 0812-4057-5500, Erwan di 0853-4818-4866, atau Puspita di 0852-4961-1260 pada pukul 08.00–16.30 WITA.
Lomba ini menjadi salah satu upaya untuk memperluas keterlibatan masyarakat dan perangkat daerah dalam menghasilkan solusi bagi kebutuhan lokal. Tantangannya tidak berhenti pada banyaknya gagasan yang masuk, tetapi juga bagaimana inovasi tersebut dapat diterapkan, diukur manfaatnya, dan dikembangkan secara berkelanjutan. (*)



