Parlementaria

DPRD Tarakan Intensifkan Pengawasan MBG, Soroti IPAL dan SPPG yang Belum Beroperasi

TARAKAN – Ketua Komisi II DPRD Tarakan, Simon Patino, memastikan pihaknya akan lebih intensif mengawasi pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Tarakan.

Hal itu dilakukan setelah adanya arahan dari Ketua DPRD agar pengawasan terhadap pelaksanaan MBG dilakukan lebih serius.

Simon mengaku, hingga kini belum ada perkembangan signifikan terkait operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Tarakan.

“Belum, belum ada update,” singkatnya, Senin (20/4/2026).

Ia mengatakan, sejauh ini yang ada hanya undangan kepada pimpinan DPRD untuk membantu mengawasi pelaksanaan program MBG.

“Yang ada tadi kemarin teman-teman Ketua DPRD itu diundang ke pusat untuk membantu mengawasi secara serius untuk pelaksanaan MBG,” ujarnya.

Menurut Simon, belum ada catatan khusus terkait kendala lapangan yang disampaikan ke pemerintah pusat. Namun, ia mengaku telah mendapat arahan langsung dari Ketua DPRD untuk meningkatkan pengawasan.

“Ketua DPRD menyampaikan saya secara khusus kemarin melalui telepon agar segera meningkatkan dan lebih agresif lagi,” ungkapnya.

Karena itu, Komisi II berencana memanggil pihak-pihak terkait sekaligus turun langsung ke lapangan. Simon menilai persoalan paling mendesak saat ini adalah masalah instalasi pengolahan air limbah (IPAL) yang menjadi syarat operasional SPPG.

Ia mengungkapkan, sejumlah penyelenggara SPPG mulai berupaya mengatasi masalah tersebut dengan menggunakan IPAL portable.

“Sudah ada, ada beberapa yang saya dapat informasi mereka mengambil IPAL portable,” ujarnya.

Menurut Simon, IPAL portable merupakan sistem paket yang dapat dipasang tanpa harus membongkar bangunan.

“IPAL paket itu tanpa membongkar lagi, memang mereka sudah ada paket sistem IPAL yang secara teknis sudah siap, tinggal taruh saja,” terangnya.

Meski demikian, DPRD masih mempertanyakan standar teknis resmi dari Badan Gizi Nasional (BGN) terkait sistem IPAL yang diperbolehkan.

“Kan kemarin saya minta IPAL standar dari BGN itu mana, dari Korwil SPPG. Saya tanya mana? Kalau memang nggak ada berarti kita standarnya DLH,” ujarnya.

Simon mengaku sampai saat ini belum menerima standar resmi dari BGN, sehingga belum bisa memastikan apakah IPAL portable yang dibeli para penyelenggara sudah sesuai ketentuan.

“Nah sampai saat ini saya belum dapat standar BGN itu yang mana. Mungkin teman-teman ini beli yang sistem ini mungkin sudah ada koordinasi. Saya belum tahu perkembangannya apakah itu dapat informasi dari BGN atau dari DLH,” jelasnya.

Ia berharap seluruh persoalan teknis dapat segera diselesaikan agar program MBG segera berjalan kembali.

“Harapan saya ini semua harus segera selesai. Paling utama bagaimana program ini berjalan, anak-anak kita, anak-anak sekolah yang ada di Kota Tarakan menikmati program ini dengan sesegera mungkin,” ujarnya.

Simon juga menyebut hampir seluruh sekolah di Tarakan masih terdampak karena seluruh SPPG belum beroperasi.

“Hampir semua sekolah. Iya, karena semua SPPG-nya ditutup,” pungkasnya. (sct)

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button