Tarakan

Tercatat 24 Anak, Stunting di Karang Anyar Terus Menurun

TARAKAN – Kelurahan Karang Anyar, Kota Tarakan, mencatat sebanyak 24 anak masuk dalam data stunting per Juli 2026. Jumlah tersebut disebut menurun dibandingkan pendataan sebelumnya yang diperkirakan mencapai sekitar 35 anak.

Lurah Karang Anyar, Lendro Kurniawan, mengatakan penanganan stunting dilakukan melalui kolaborasi kelurahan, Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu), dan Puskesmas. Salah satu bentuk intervensi yang diberikan ialah makanan tambahan berbahan pangan alami yang mengandung protein.

“Kalau arahan Pak Wali Kota, bahan-bahan natura yang mengandung protein dari alam, misalnya telur, ayam, ikan,” ujarnya, Senin (5/10/2026)

Menurut Lendro, data awal diperoleh melalui kegiatan penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan anak di Posyandu. Data tersebut kemudian dilaporkan kepada Puskesmas untuk dinilai apakah anak masuk dalam kategori stunting.

Setelah penilaian dilakukan, data dikembalikan untuk diverifikasi kembali bersama Posyandu dan kelurahan. Pemeriksaan mencakup keberadaan anak, kesesuaian alamat, serta kondisi data di lapangan sebelum pemberian makanan tambahan dilakukan.

Ia menegaskan, pemantauan tidak berhenti setelah bantuan makanan diberikan. Kelurahan bersama pihak terkait tetap mengikuti perkembangan anak melalui kegiatan Posyandu, termasuk memastikan makanan tambahan benar-benar diterima dan memantau pertumbuhan anak.

“Kalau memang sudah tidak dalam kategori stunting, keluar dia dari data stunting,” jelasnya.

Lendro menyebut jumlah 24 anak tersebut merupakan data yang diingatnya per Juli 2026. Ia juga memperkirakan sebelumnya terdapat sekitar 35 anak, tetapi tidak merinci tanggal pendataan maupun angka pasti dari periode sebelumnya.

Selain pemantauan rutin di Posyandu, pendekatan langsung ke rumah dilakukan apabila diperlukan. Langkah tersebut membantu memastikan anak tetap terpantau meskipun tidak hadir dalam pelayanan rutin.

Penurunan jumlah anak dalam data stunting menjadi perkembangan yang perlu ditindaklanjuti melalui pemantauan berkala. Keberhasilan penanganan tidak hanya dilihat dari berkurangnya angka dalam pendataan, tetapi juga dari konsistensi intervensi gizi dan perkembangan pertumbuhan anak berdasarkan hasil pengukuran. (*)

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button